Kamis, 24 Februari 2011

stripper si cinTA buTAku


Minyak mentah yang berada di sumur (well) dipompa menuju separator, minyak tersebut masih berupa campuran antara air, minyak, dan gas. Di dalam separator, minyak, air, dan gas dipisahkan berdasarkan specific gravity (SG) yang dimiliki sehingga air menempati urutan paling bawah disusul oleh minyak dan gas menempati urutan teratas. Minyak keluaran separator akan memasuki crude sweetening oil atau stripper untuk dipisahkan lagi gas yang masih terdapat di minyak. Jadi fungsi dari stripper adalah untuk mengurangi kandungan H2S pada minyak menjadi < 10 part per million (ppm). Pengendalian yang terdapat pada vessel yaitu level dan tekanan. Tekanan sendiri dipengaruhi oleh flow rate pada sweet gas dan gas yang terbawa oleh flow minyak yang masuk. Tekanan sweet gas yang masuk harus dijaga agar sesuai dengan tekanan yang keluar, misalnya nilai maksimum ditentukan untuk mencapai keseimbangan hasil produk yaitu sebesar 1,5 million standart cubic feed per day (mmscfd), bila gas yang dibawa oleh sweet gas > 1,5 mmscfd maka gas H2S yang masih terdapat pada minyak akan > 10 ppm. Pressure indicate control (PIC) akan mengatur agar sistem kembali stabil dan dapat mencapai hasil produk yang sesuai dengan keinginan atau set point. Metode PI konvensional yang telah diterapkan pada sistem pengendalian tekanan di stripper PV-3300 milik PT. JOB P-PEJ dapat memperbaiki tanggapan transien dan mengeliminasi kesalahan mantap, namun pengendali tersebut masih memiliki kelemahan pada pentuningan ulang parameter jika terjadi perubahan dinamika proses, gangguan tersebut misalnya karena adanya laju aliran yang berubah, perubahan karakteristik pabrik, umur peralatan, atau transmitter yang mengalami kerusakan nantinya akan berpengaruh pada respon keluaran dari sistem pengendalian, untuk memperbaiki respon tersebut tidak mungkin men-shut down kan plant tersebut, maka solusinya yaitu dilakukan pentuningan ulang. Pentuningan ini akan menjadi sangat rumit jika dilakukan secara manual oleh operator, namun bila menggunakan metode fuzzy gain scheduling (FGS) dapat dilakukan secara otomatis. Perancangan FGS dapat diterapkan di PIC. Kelebihan FGS terletak pada kecepatannya merubah  parameter pengendali dalam merespon perubahan proses. Penggunaan fuzzy berfungsi menghitung parameter kontrol PI (Kp dan Ti), berdasarkan kondisi sinyal error (E) dan perubahan error (ΔE). Adanya tambahan fuzzy ini diharapkan pengendali lebih responsif terhadap perubahan di plant (mampu melakukan penalaan pada perubahan plant) sehingga kestabilan sistem tetap terjaga serta tidak menimbulkan gangguan dan bahaya dalam proses.

3 komentar:

  1. jangan langsung percaya!!
    kontrollernya NEGATIP muluu!!

    XD

    BalasHapus
  2. hahaa asseeeeem udah positip wek :p

    BalasHapus
  3. valid tah iku datane? engineer = perekayasa bukan? :p

    BalasHapus